Postingan

GEMBALA DAN PENDIDIKAN

Gambar
Seringkali isu di masyarakat bukan isu di gereja dan sebaliknya isu di gereja bukan isu di masyarakat. Ini tergambar, misalnya, dari sikap seorang gembala terhadap suatu isu di masyarakat yang berdampak ke gerejanya. Tidak jarang gembala sebagai pemimpin “spiritual” di jemaat memakai metode “kontekstual” di gerejanya. Artinya, kebijakan gereja dalam dinamika hubungan gereja dan masyarakat, di mana peran dan partisipasi dituntut atau makna kehadiran gereja di tengah masyarakat dipertanyakan, sering terjadi tarik ulur untuk suatu tujuan tertentu. Misalnya, partai politik mana yang harus dipilih dalam pemilihan umum. Kalau di masyarakat memakai dasar hukum di atas dasar rohani, di gereja memakai dasar rohani di atas dasar hukum. Karena itu, peran gembala di dalam gereja tidak terlepas dari sistem dan pola pendidikan yang ia terima. Namun selain itu ada hal lain, minat dan bakat menjadi patokan penting dalam pendidikan dan pembentukan seorang hamba Tuhan. Apa dan bagaimana pelajaran yang ...

MENGASIHI SESAMAKU MANUSIA

Satu kalimat menarik dari T. W. Manson yang mengatakan, “While mere neighbourhood does not create love, love does create neighbourliness.” Kalau secara bebas diterjemahkan demikian , kasihlah yang menciptakan relasi dengan sesama , bukan relasi itu sendiri.   Kisah orang Samaria di Lukas 10:25-37 adalah contoh tepat tentang kasih yang benar terhadap sesama. Kisah itu bukan hanya menyangkut tentang menolong orang yang kesusahan, namun pada dasarnya menjelaskan perspektif  Tuhan Yesus sendiri tentang pelayananNya di dunia ini, yaitu pelayanan kasih yang menyelamatkan.   Di pasal-pasal sebelumnya Lukas memperlihatkan pelayanan Tuhan Yesus: menyembuhkan orang sakit kusta (5:12-13), menyembuhkan pada hari Sabat (6:10), menyembuhkan hamba perwira di Kapernaum (7:10), mengusir roh jahat dari orang Gerasa (8:29), menyembuhkan anak perempuan Yairus (8:54) dan perempuan yang sakit pendarahan (8:48) serta menerima pelayanan perempuan berdosa (7:37-38...

KARAKTER PENDIDIKAN TEOLOGI DI ERA PASCAMODERN

Gambar
Pendidikan teologi pada dasarnya pendidikan yang menghasilkan rohaniwan. Aspek kehidupan  rohani menjadi salah satu aspek penting, tentunya selain aspek akademis dan pelayanan, dalam  proses pendidikan. Aspek-aspek tersebut diharapkan, dengan kurikulum, pola pembinaan,  lingkungan sekolah dan sebagainya, dapat menghasilkan lulusan yang memiliki pemahaman,  karakter dan keterampilan yang baik, sehingga siap dan mampu berkarya di ladang pelayanan. Beda sekolah, beda pula sistem, dasar teologia, metode pembelajaran, model pembinaan dan nilai-nilainya. Namun ada satu hal yang sama, yaitu keinginan untuk dapat menghasilkan lulusan yang baik dan siap melayani. Namun di ladang pelayanan ada banyak persoalan timbul, bahkan ditimbulkan, oleh para lulusan seminari tersebut. Mereka terkait dengan beragam persoalan, seperti masalah kejujuran, integritas, keteladanan, komitmen pelayanan dan sebagainya. Dengan kata lain, semua hal yang terkait deng...

MARI BELAJAR 2

Keyakinan kita merupakan hasil dari suatu proses yang berkembang dalam interaksinya dengan keyakinan-keyakinan lainnya. Keyakinan tersebut membentuk pengetahuan, pengertian atau penghayatan kita atas diri, sesama dan Tuhan. Pengetahuan, pengertian atau penghayatan kita juga dapat berkontribusi dalam meneguhkan keyakinan kita, namun dasar bagi ketiga hal tersebut adalah keyakinan. Melalui (pem)belajar(an) kita dapat mentautkan keyakinan dengan pengetahuan, pengertian dan penghayatan kita. Karena dalam belajar kita mengevaluasi diri sendiri. Evaluasi tersebut terlihat dari keterbukaan dan kesediaan untuk menerima. Menerima di sini memiliki dua aspek yaitu menyetujui dan tidak menyetujui . Misalnya, walau seseorang mengatakan bahwa ia menolak atau tidak mau belajar, namun penolakannya itu merupakan hasil dari belajarnya. Demikian pula sebaliknya. Menerima adalah hal pertama yang kita lakukan dalam proses belajar sebelum kita dapat memberi. Penting untuk disadari bahwa pencapaian ses...

MARI BELAJAR 1

"Bagaimana kamu membuktikan bahwa pendapatmu itu benar?," saya tanya ke seorang teman tentang dasar keyakinannya. "Karena yang lain salah!" jawab teman tersebut. Mungkin jawaban tersebut tidak nyambung dengan pertanyaannya. Namun bila kita cermati ada beberapa versi lain dari jawaban tersebut. Misalnya: 1. Ada banyak yang mengikutinya; 2. Ada tokoh A, tokoh B yang mendukungnya; 3. Ada lembaga besar yang mengakuinya; 4. Terbukti dalam pengalaman hidupku. Jawaban-jawaban tersebut tidaklah salah sepenuhnya. Namun bila dasar pembenaran suatu keyakinan bukan dari sumber keyakinan itu sendiri, maka setidaknya ada dua persoalan yang muncul. Pertama, kebenaran suatu keyakinan akhirnya bersifat kondisional dan situasional; dan kedua, sumber keyakinan tersebut tidak memiliki argumentasi yang memadai untuk membuktikan kebenarannya. Membuktikan kebenaran suatu keyakinan bukanlah hal yang mudah. Apalagi bila kita menyampaikan kepada orang yang berbeda keyakinan dengan kita....